Gonta-Ganti Pasangan!!

Saturday, September 17, 2016   Nathan Bravian   1 komentar
Tech
Saya Nathan Bravian. Seorang laki-laki tulen. Siswa SMK Krian 2. Anak pertama dari 2 bersaudara. Suka bermain komputer. Suka bergonta-ganti pasangan.

Main Linux: Throwback

Friday, September 16, 2016   Nathan Bravian   3 komentar
Tech
Hai hai hai.. Ya ya ya.. :v. Opening yang awkward sekalee. Dari judulnya pasti kalian sudah tau, bahwa post kali ini akan berbicara tentang makanan Linux. Linux disini bukan makanan khas dari daerah Zimbawe bagian barat. Tapi Linux disini adalah sebuah system operasi yang lumayan asing bagi orang Indonesia.

Kalau begitu saya jelaskan sedikit saja tentang linux, kalo kepanjangan jadi makalah. Jadi, Linux ini merupakan Sistem Operasi berbasis UNIX. Apa itu UNIX ? Cari di Wikipedia :v. Lanjut, Linux ini merupakan sistem operasi yang terbuka atau bahasa kerennya open source, yang berarti tiap orang bisa mengembangkan dan mendistribusikan secara bebas.

Linux dikembangkan pada tahun 1991 oleh om Linus Trovald. Awalnya Linux ini dibuat untuk server. Linux pun bisa dijalankan dimanapun, kecuali di aspal. PlayStation ? Bisa, E-Reader ? Bisa, Hape ? Bisa, Android itu buktinya. Kenapa Linux bisa tenar ? Karena dia GRATIS (sebagian besar) dia gak bergantung pada vendor, karena gratis otomatis biaya maintenance nya murah, serta kompabilitas tinggi.

Dewasa ini, etdah bahasanya :v. Sekarang ini, Linux pun banyak digunakan pada PC rumahan, Handphone, Drone, dan IOT yang lagi kekinian. Mungkin kapan-kapan saya bahas IOT lebih dalam. Yang ingin saya perjelas di artikel ini adalah Linux for PC rumahan.

Pertama saya mengawali main Linux karena diracunin sianida temen saya. Yang jelas lebih tua, daridulu memang saya suka berteman ngobrol dengan seseorang yang lebih tua, entah mengapa. Pertama saya tanya-tanya tentang Linux karena beliau sudah lama pake Linux, dari tahun 2007 kalau gak salah. Beliau menyarankan saya untuk memakai Ubuntu. Saya kaget, pertama saya pikir Ubuntu merupakan singkatan dari Usus Buntu atau Uang Buntu. Ya maklum, anak baru masuk SMP. Seri yang saya pakai adalah 12.04 tapi sudah ada ekornya, 12.04.2 mungkin, dengan senang hati beliau membuatkan live usb yang sudah diracik dengan sianida lagi begitu indahnya, built in aplikasi yang namanya aneh-aneh dan asing tapi saya suka.

Saya datang kerumah beliau duduk dan menyalakan laptop, dan mungkin saya separuh gila dan antusias, saya langsung single boot. NEKAT BANGET. Karena laptop saya keluaran baru (pada masanya), jadi BIOS nya sudah digantikan menjadi UEFI. Karena pada waktu itu dukungan untuk UEFI masih sangat minimalis, akhirnya saya yang masih lugu ini belajar bios. Cara mematikan UEFI dengan baik dan benar sehingga tidak terjadi ledakan dari laptop ini.
Setelah berhasil, akhirnya instalasi pun dimulai. Rasa deg-degan dan kebelet menjadi satu kesatuan yang membuat hati ini risau. Ketika usb ditancapkan di laptop lucu ini, dengan yakin dan mantap saya menekan tombol power. Dan ya, bisa dipastikan bahwa laptop berhasil menyala dan tidak ada korban jiwa. Kagum, heran, bingung, dan takjub ketika melihat splash screen Ubuntu bewarna ungu tua muncul dihadapan saya. Hati mulai berdebar lagi, saya curiga, apakah saya jatuh cinta terhadap laptop saya.

Tak menunggu sampai saya dapat jodoh, Desktop Ubuntu berhasil nongol didepan saya. Dengan wallpaper cabe hijau yang maknanya masih saya renungkan sampai saat ini. Dengan mantap, saya keliling desktop dengan mengarahkan kursor kesemua arah, mencoba berbagai aplikasi yang saya tidak kenal. Dan akhirnya memutuskan untuk install. Langkah pertama yang saya lakukan adalah cuci tangan, lalu pegang stop kontak menghapus partisi windows, memulai semua dari awal :’). Mengubah format sistem dari GPT menjadi MBR membuat beberapa partisi untuk boot, root, data, serta swap. Setelah selesai, saatnya memasang Ubuntu. Dikala proses pemasangan saya menggunakan bahasa Inggris, biar gaul. Setelah klik sana klik sini, tiba disaat penentuan, menentukan lokasi pemasangan Ubuntu. Berbeda total dengan Windows, disini menggunakan dev/sda/x yang kalau salah-salah bisa merusak data dan masa depan. Maka dari itu saya bertapa untuk memastikan langkah yang saya ambil sesuai dengan kodrat pemasangan Ubuntu. Setelah selesai, maka lanjut ketik ketik dan install. Menunggu, tidak selama menunggu jawaban doi, Ubuntu pun berhasil di install dan saya pulang.

Selama berbulan-bulan saya mulai menghabiskan kuota dan waktu untuk eksplorasi Linux, download iso dan membuat live usb menjadi kegiatan sehari-hari. Malah pernah dalam satu hari, menginstall 3-4 Sistem Operasi. Untungnya flashdisk pada masa itu masih awet, tidak seperti sekarang yang mudah rusak. Distro yang pernah saya gunakan  antara lain adalah Ubuntu, Kubuntu, Lubuntu, Xubuntu, Linux Mint, openSUSE, Fedora, Antergos, Manjaro, Puppy Linux, Peppermint Os, Pear OS yang plek ketiplek dengan MacOS, dan lain-lain yang lupa karena terlalu banyak.

Kegiatan itu berakhir ketika saya kelas 8 SMP. Karena saya butuh aplikasi yang bisa jalan di Windows maka saya memutuskan untuk libur main Linux. Akhirnya main linux lagi pada waktu libur sekolah, mulai mencoba yang baru. Siklus seperti itu terus terjadi sampai saya lulus kemaren.

Itu sepenggal cerita dulu, zaman SMP lah. Sekarang di SMK sebagai anak Multimedia, pasti saya akan kembali akrab dengan Linux entah itu kapan. Jadi apa salahnya untuk akrab duluan dengan Linux. Untuk artikel ini dipisah menjadi beberapa bagian. Karena kalo dijadiin satu kepanjaaanggaann. Sepanjang jalan kenangan dong, eh, duh, baper. Yaudah deh lanjut di next post. Babaii. Ciao!

DISKONAN CUYY

Tuesday, September 13, 2016   Nathan Bravian   2 komentar
Tech
Wahai para umat pembaca blog ini, siapakah diantara kalian yang tidak suka pada diskonan ?? Saya rasa tidak ada. Kalaupun ada mungkin dia tidak punya uang untuk beli barang yang didiskon.
Saya sendiri merupakan tipe orang yang malas-malas rajin dalam mencari diskon atau sesuatu yang dipotong (harganya). Karena biasanya saya memang cari yang sudah murah :v #kere kalau gak gitu saya cari sesuatu yang sudah jelas diskonnya (tanpa embel-embel *syarat dan ketentuan berlaku*). Itu dalam hal shopping secara fisik.

ARTIKEL INI TIDAK DISPONSORI OLEH PIHAK MANAPUN.
KALAU ADA YANG MAU SPONSOR SAYA TERIMA DENGAN SENANG HATI :p

Kalau dalam hal online, disini dalam konteks belanja online. Saya lebih suka berbelanja disini (serius, bukan sponsor ini) karena saya bisa memilih tokonya dengan harga yang tentunya bisa cari mana yang murah. Sesuai dengan tagline dari toko tersebut, “Mall Online Terbesar di Indonesia”. Saya akhirnya tidak skeptis lagi tentang belanja online karena ada fitur yang akrab dipanggil rekber. Jadi walaupun doi mau tipu-tipu gak bisa juga, itu yang membuat saya merasa nyaman dan aman #baper. Satu lagi yang saya suka dari toko online ini adalah bisa bayar di minimarket :D jadi gak usah bolak-balik ke Bank.

Kalau udah online, tak lepas dari yang namanya gadget. Apalagi yang namanya Android itu, udah menjamur dimana-mana dari anak kecil sampe manula semuanya pegang gadget. Pasti kalau yang punya Android, pas jalan-jalan di PlayStore pernah liat aplikasi bagus yang bayar, dan itu bagus. Kita pingin punya. Disinilah jiwa konsumtif manusia teruji.

PlayStore menyediakan beberapa metode pembayaran antara lain pake kartu kredit, redeem Google Play Gift Card (gak tau masih ada apa kaga), sama bayar pake pulsa. Nahh ini, dengan metode bayar pake pulsa jiwa konsumtif manusia kembali di uji. Untuk sementara ini yang bisa bayar pake pulsa adalah operator merah, biru, dan kuning.

Nah, kampretnya developer aplikasi adalah dia membuat aplikasi bagus dengan disisipi iklan yang mengganggu. Ya okelah, saya paham para om developer ya butuh makan untuk menyambung hidup dan menafkahi keluarga mereka. Saya juga sebagai content creator juga menyukai iklan dan sponsor, karena dari merekalah kita makan. Tapi ya mbok jangan ngageti iklannya. Enak-enak main eh ada pop up iklan, kan mengganggu juga..

Yang kedua, mereka membuat aplikasi yang freemium. Disini, jiwa konsumtif (kembali) di uji. Sebelumnya saya jelaskan secara singkat, apa itu freemium. Freemium terdiri dari 2 kata: Free dan Premium. Maksudnya adalah, Aplikasi tersebut awalnya free. Tapi untuk menikmati beberapa fitur lebih, kita diharuskan membayar beberapa uang untuk menikmati fitur tersebut.
Biasanya yang freemium adalah game, kaya Pokemon GO. Kalau kita kehabisan pokeball atau pengen beli ‘jamu’ untuk ngelemesin si monster, kita harus beli item itu dengan harga yang ditentukan. Ada lagi kaya aplikasi security kaya Lockwatch yang bisa ngebantu nyari hape yang hilang dibawa kenangan masa lalu.

Kali ini iman saya diuji. Pertengahan Agustus lalu, saya dapet email dari Spotify. Dia ngirimin gambar yang bertuliskan:
3 bulan hanya seharga Rp 4.990
Buset dah! Tanpa pikir panjang langsung saya klik tombol pink dibawahnya untuk langganan Spotify Premium seharga Rp 4.990. Disini, saya selalu bingung. Kenapa mereka kok memberi harga yang nanggung, kok gak langsung ngomong 5 rebu. Pake angka 99x segala. Yuk lanjut, setelah di klik itu saya diarahkan menuju jalan yang benar, menuju petunjuk Ilahi website pembayaran Spotify. Saya pikir hanya bisa dibayar pakai kartu kredit. EH TERNYATA BISA  BAYAR PAKE DOKU atau bisa langsung ke ALFAMART. Ini yang saya suka :D Tanpa pikir panjang langsung saya pilih opsi bayar di Alfamart (sebenernya gak di Alfamart doang, bisa di Lawson atau Alfamidi) tapi hari itu gak sempat, akhirnya saya bayar esok hari.

Keesokan harinya, sepulang sekolah saya nyamperin Alfamidi sebelah sekolah dan langsung nyamperin mbak dikasir dan minta pin bb ngomong kalau mau bayar DOKU. Dan si mba-mba nya ini gak ngerti. Akhirnya saya bombing dengan halus dan lembut, apa yang harus dilakukan mba nya ini. Nggak, saya bukan mantan pegawai disana. Tapi karena waktu pembayaran ini, kita diberikan instruksi gimana cara pembayaran tunainya. Jaga-jaga kalau mbak Alfanya gak tau kaya kasus tadi. Setelah mengisi token tadi, akhirnya saya bayar sebesar 10 ribu. Lho kok 10 ribu ? Ya memang gitu, waktu pembayaran udah dijelaskan, bawah promo Rp 4.990 itu hanya berlaku kalau bayar pake kartu kredit. Sempet nyesel sih, tapi setelah mikir-mikir lagi, ya gakpapa lah lumayan juga 10 ribu 3 bulan, daripada sebulan 50 ribu :v #KereHematBedaTipis.

Sepulang bayar dari Alfamidi, tak perlu menunggu sampe doi peka, langsung saya dapet email dari Spotify tentang kwitansi online itu. Dan saat saya buka aplikasi Spotify-nya (dari PC) dan Voilaaa, ada tulisan premium di title bar :D. Akhirnya saya bisa play musik tanpa iklan, bisa gonta-ganti sesuka hati. Kalau di PC sih yang kerasa cuma tanpa iklan. Begitu di hape, semua fiturnya kerasa banget. Jadi pengen nerusin untuk bulan ke-4 :v #LemahIman

So, itu tadi pengalaman mencari diskon ala saya. Kalau kamu ? ceritakan di kolom komentar atau tulis di blogmu. Pesan moral dari episode kali ini adalah: Jagalah mata, hati, pikiran dan dompet, ketika memasukki kawasan diskon. Karena otak kosong dan dompet penuh lebih berbahaya dari godaan mantan. Sekian dulu godaan dari saya. Terimakasih dan Ciao!

Kembali Lagi

Monday, September 12, 2016   Nathan Bravian   Beri komentar
Curhat

Halo semua, akhirnya saya kembali nulis lagi :D. Nggak kok, saya gak diculik jin tomang untuk dijadikan pembantu sesaat. Saya masih tetap ada di Indonesia. Hidup sebagai siswa SMK yang baik hati dan tidak sombong.

Akhirnya setelah sebulan lebih vakum dari dunia per-nge-blog-an Indonesia dikarenakan tugas yang semakin liar dan menjadi-jadi, seperti mantan yang menebar rayuan mautnya agar kita kembali kedalam cengkraman doi. Sehingga tugas itu membelenggu diriku untuk melakukan hobi curhat dalam bentuk tulisan.

Sebenernya saya suering banget pegang laptop. Tapi disibukkan sama PowerPoint, Word, Premiere, Photoshop, dan kawan-kawannya, sehingga draft ini pun terlantar bagaikan anak tiri. Akhirnya, di long weekend ini saya bisa kembali nulis :D wahahahaha.

Banyak ide yang saya sudah siapkan untuk di ceritakan, semoga gak lupa. Hari ini Minggu (11/09) saya hidup dengan kuota internet yang tipis, setipis kertas. Karena besok Idul Adha, jadi konter yang biasa jual kuota tiba-tiba tutup. Akhirnya mau tak mau, sudi tak sudi.. Langganan paket internet si merah yang mahaaalll.. Tapi gakpapa lah, demi orderan dan komunikasi jalan terus. Pokoknya gak dibuat main YouTube :D

Haha mungkin ini adalah salah satu artikel pendek yang pernah saya buat, saya mau lanjut ngetik yang lain supaya gak kelupaan :D. So bai bai see yu at next post. Ciao!

CobaCoba: Ngeblog di Hape!!

Wednesday, July 27, 2016   Nathan Bravian   Beri komentar
Tech
Halo gaes, akhirnya bisa nulis lagi. Tiba-tiba saya kepikiran untuk namain ini seri Coba-Coba. Jadi seri ini akan mengisahkan pengalaman dalam hidup saya yang berbau coba-coba entah teknologi, ataupun tidak. Keren bukan :D

Blogging kali ini berbeda, bukan ditulis di Laptop, tapi kali ini nulisnya di hape :v Kegiatan menjadi murid baru itu berat saudara-saudara. Harus kuat dan kadang setrong, stress tak tertolong. Entah apa hubungannya degan ngeblog di hape~

Ngeblog sebenarnya gampang-gampang susah. Sebetulnya kegiatan ini sangat fleksibel dan bisa dilakukan kapanpun dimanapun. Malah kata temen saya, "Cerita apapun bisa dijadikan tulisan." Ya berarti hampir seluruh aspek kehidupan bisa kita tulis dengan menarik. Tapi memang ada hal yang tidak bisa di ceritakan dan menjadi rahasia~. Kalo di ceritakan pun gak penting.

Salah satunya yang ini, disela istirahat sekolah pun kuambil gitar dan mulai kumainkan nulis bisa dilakukan. Alat yang saya gunakan cukup simpel:
  • Hape Samsung Galaxy Young 2
  • MiFi ZTE MF90+
  • Google Keep (Download di PlayStore dan AppStore)
Logonya Google Keep. Lampu ? Mungkin kaya di kartun, kalo ada ide, ada gambar lampu

Sebenernya kalo gak pake mifi juga bisa sih. Karena Keep ini bisa diakses secara offline, misal kalian lagi di hutan Amazon dan tiba-tiba liat piranha terbang, sedangkan yang kalian cuma bawa hape, langsung aja foto, terus add di keep dan mengetiklah.

Kelihatannya simpel sekali. Tapi permasalahan yang saya alami adalah, ukuran hape yg terlalu kecil atau jempol saya kebesaran. Sehingga saya kerap typo berkali-kali, kalau di copy ke dasbor blogger, maka akan ada formating warna abu-abu yang menganggu. Ketika di clear maka BOOM! Spacing dkk berubah, dan harus editing. Jadi kurang efektif

Itu adalah minus ngeblog dari hape menurut saya. Lebihnya sih juga ada ya.. Jadi kalo ada sesuatu yang 'wah' bisa langsung nulis. Tohya sekarang jarang yg pake hape dibawah 4inch. So, tunggu apalagi ? Mulai lah ngeblog dan berbagai, siapa tau dapet jodoh :D

Keliatannya sampai disini dulu nulisnya, jari tangan udah mulai kram dan mimisan. Yah walaupun coba-coba kali ini gagal atau kurang efektif, tapi setidaknya sudah berbagi. hahahahaha. Okei, See yu et neks post babaiii Ciao!